sambil menjajakan kopinya, bapak ini lantunkan ayat al- qur’an

37

Menjadi pengayuh becak kini tak punya ruang di Ibu Kota. Akibatnya, para pengayuh becak terpaksa menyingkir ke kota tetangga.

Demikian halnya dengan Marsudi, perantau asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang sudah lama menjadi pengayuh becak di Slipi, Jakarta Barat. Dia pindah ke Larangan, Kota Tangerang sejak becaknya rusak.

Becak tersebut menjadi alat utama bagi Marsudi mencari nafkah. Di usianya yang sudah 50 tahun, dia masih harus menghidupi keluarganya ditambah bayar sewa rumah.

Ketika becaknya masih bagus, Marsudi memiliki pendapatan sekitar Rp50 ribu setiap harinya. Jumlah itu belum bisa menutupi seluruh kebutuhan keluarganya.

Saat becak Marsudi rusak, dia kehilangan mata pencaharian. Sementara dia masih harus memenuhi kewajiban kepada keluarganya.

Kondisi Marsudi ternyata diketahui PPPA Daarul Quran. Lewat program pemberdayaan ekonomi, Daarul Quran membantu memperbaiki becak Marsudi.

Desain Baru Becak Marsudi

Becak itu didesain tidak lagi untuk memuat penumpang. Bagian depannya terdapat etalase sehingga bisa dimanfaatkan Marsudi untuk berdagang kopi keliling.

Selain itu, becak itu dilengkapi pengeras suara yang selalu memutar rekaman Murattal Alquran. Sehingga, setiap kali berkeliling jualan kopi, Marsudi juga mengajak banyak orang untuk membaca Alquran.

” Jadi, nanti bapak nggak boleh nyalakan dangdut kalau jualan, nyalakannya murattal, bacaan Quran, kalau azan juga langsung sholat ke masjid, jualan tinggalin dulu, dahulukan Allah,” ujar penanggung jawab program, Rozali kepada Marsudi.

 Becak Marsudi© dream.co.id

Rozali mengingatkan Marsudi agar selalu mengutamakan Allah. Karena rezeki yang didapatnya semata karena kasih sayang Allah.

” Alhamdulillah, saya senang,” kata Marsudi.

Sudah lama Marsudi menantikan becaknya bisa diperbaiki. Harapannya terwujud, tapi bukan lagi untuk menarik penumpang melainkan menjadi Becak Kopi Murottal.

” Terima kasih, PPPA Daarul Quran, terima kasih para donatur,” kata dia.

You might also like
close